Jumat, 03 Oktober 2014


Ada rahasia untuk menjaga agar otak tetap encer di umur renta
Santai saja, stres justru membuat Anda cepat pikun
Ricky Anderson, Tasya Paramitha | Selasa, 30 September 2014, 16:20 WIB
VIVAlife - Selama ini di masyarakat berkembang pemikiran, bahwa pikun di usia tua adalah hal yang wajar. Sesuatu yang memang akan datang dengan sendirinya, jadi tidak perlu dikhawatirkan, apalagi dicegah. Benarkah demikian?
Nyatanya, dikutip dari Times of India, sebuah penelitian memaparkan fakta bahwa penyakit otak yang satu ini sebenarnya bisa dihindari. Salah satu caranya dengan mengobati depresi. Lho kok, apa hubungannya? Ada. Tahukah Anda, bahwa sebenarnya depresi atau stres, secara signifikan meningkatkan risiko seseorang mengidap demensia di usia tua.
Studi menunjukkan bahwa stres ringan yang terjadi secara terus-menerus, juga mampu meningkatkan risiko demensia. Hal ini terjadi, karena stres dan depresi berhubungan erat dengan menurunnya kemampuan berpikir, memori, dan keterampilan seseorang.
"Temuan ini menarik, karena mereka menunjukkan fakta bahwa depresi menibulkan risiko demensia," ujar Robert Wilson, peneliti dari Rush University Medical Centre, di Amerika Serikat.
"Jika kita dapat mencegah atau mengobati depresi, kita miliki potensi membantu otak menjaga pikiran dan memorinya hingga usia senja," tambah pria itu.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Neurology, melibatkan 1764 orang dengan usia rata-rata 77 tahun, yang tidak memiliki masalah kesehatan otak di awal studi. Peserta lalu disaring setiap tahun berdasarkan gejala depresi, seperti masalah kesepian, atau kurangnya nafsu makan.
Peneliti kemudian melakukan serangkaian tes lagi, untuk melihat perkembangan pemikiran, memori, dan keterampilan mereka selama delapan tahun.
Selama penelitian berlangsung, sebanyak 922 orang (52 persen peserta) ternyata mengembangkan gangguan kognitif ringan (MCI), sementara 315 orang (18 persen) mengembangkan demensia. Orang-orang yang mengembangkan gangguan kognitif ringan dan demensia, cenderung memiliki tingkat gejala depresi lebih tinggi sebelum mereka didiagnosis.
Jadi kesimpulanya, hindari terlalu memikirkan sebuah persoalan dengan berlebihan, santai saja. Karena pikiran berat, justru akan membuat Anda repot di usia lanjut.

Senin, 21 Juli 2014

konsumsi protein saat sahur bisa membantu tubuh kenyang lebih lama.
Lesthia Kertopati, Al Amin | Jum'at, 18 Juli 2014, 12:07 WIB
VIVAlife - Berpuasa banyak manfaatnya bagi kesehatan. Namun, jika Anda kerap merasa lesu di siang hari, berarti Anda melakukan kesalahan saat bersantap sahur maupun berbuka. Dilansir Arab News, ahli gizi Raida Al-Habib mengatakan, berolahraga merupakan kunci penting untuk tetap bugar saat berpuasa.

"Meskipun berpuasa, bukan berarti olahraga ditinggalkan," ujarnya.

Menurut Raida, waktu terbaik untuk berolahraga di bulan Ramadan adalah satu atau dua jam sebelum berbuka puasa, selama 30 menit,

Olahraga yang dilakukan pun tidak melulu yang melibatkan aktivitas fisik berlebihan. "Stretching atau yoga dan pilates bisa membantu meningkatkan kebugaran tubuh selama berpuasa," sambungnya.

Selain itu, asupan makanan saat sahur dan berbuka juga harus diperhatikan. Nutrisi yang seimbang juga akan membuat tubuh terasa lebih segar.

"Makan sehat saat sahur dan berbuka adalah hal penting yang tidak bisa dilewatkan," jelas Raida.

Dia mengungkapkan, mengonsumsi protein nabati dan hewani ketika bersantap sahur bisa membantu metabolisme tubuh bekerja lebih optimal. "Hindari hidangan sahur yang terlalu berat. Sebaiknya konsumsi makanan yang mengandung banyak serat dan air agar tubuh kenyang lebih lama dan tidak kekurangan cairan selama berpuasa," tuturnya.

Sementara, saat berbuka, Raida menyarankan untuk menghindari makanan goreng-gorengan serta yang mengandung banyak gula.

"Jika orang yang berpuasa lelah dan lesu di siang hari, itu berarti  ada ketidakseimbangan antara buka puasa dan sahur makanan. Mereka biasanya makan berlebihan dan mengonsumsi makanan penuh lemak, gula dan kurang asupan air," lanjutnya.

Di samping itu, Raida menjelaskan, konsumsi makanan penuh lemak dan gula akan berkontribusi terhadap kelelahan, ketidaknyamanan dan haus selama berpuasa. 

© VIVA.co.id

Sabtu, 31 Mei 2014


Berdasarkan jenisnya, luka dibagi dua; Luka Akut dan Luka Kronis 



Luka juga terdiri dari beberapa macam, diantaranya:
a.       Luka Abrasi (Lecet)
Luka yang terjadi karena gesekan di permukaan kulit dengan benda kasar, biasanya hanya mengenai kulit lapisan luar atau membran mukosa, atau kulit sedikit terkikis (seperti jatuh terseret)
b.      Luka Robek
Pada luka laserasi terjadi kerusakan jaringan, dapat disebabkan misalnya oleh pecahan gelas, kaca, benda tajam, luka ini mudah terkontaminasi dan terinfeksi
c.       Luka Insisi (Sayat)
Luka yang terjadi karena sayatan benda tajam (Seperti luka operasi)
d.      Luka memar
Luka yang tidak menimbulkan kerusakan pada permukaan kulit namun adanya injuri (luka) pada struktur internal (bagian dalam) kulit.
e.       Luka Tusuk
Luka yang dalam akibat benda tajam seperti pisau, paku, kawat, dsb.
f.       Luka gigitan
Luka yang terjadi akibat gigitan binatang seperti : Kucing, Anjing, Tikus, Serangga, dsb.
g.      Luka bakar
Luka bakar yang disebabkan oleh api, bara api, dan sumber panas lainnya. (Suryadi. 2007)[i]
 
A.   Prinsip Penanganan Luka
Perawatan luka tergantung pada jenis luka, akut atau kronisnya luka, ada tidaknya pendarahan dan risiko yang dapat menimbulkan infeksi. Pada prinsipnya, perawatan luka sebagai berikut:
No
Jenis Luka
Penanganan

Prinsip dasar
1.      Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau larutan antiseptik
2.      Menggunakan sarung tangan
1
Luka Abrasi (Lecet)
1.       Bersihkan luka
2.       Tekan dengan kasa steril pada titik luka jika terjadi pendarahan
3.       Memilih topical terapi
4.       Memilih balutan luka
2
Luka Robek
1.       Bersihkan Luka
2.       Tekan dengan kasa steril pada titik luka jika terjadi pendarahan
3.       Memilih topical terapi
4.       Memilih balutan luka
3
Luka Sayat


Luka Sayat
1.       Bersihkan Luka
2.       Tekan dengan kasa steril pada titik luka jika terjadi pendarahan
3.       Memilih topical terapi
4.       Memilih balutan luka
4
Luka Memar
1.      Membersihkan luka
2.      Mengeringkan luka/usap
3.      Memilih topikal terapi
4.      Memilih balutan
5
Luka Bakar
1.      Membersihkan luka dengan menggunakan NACL atau air bersih hangat.
2.      Mengeringkan luka dengan kasa steril
3.      Memilih topikal terapi
4.      Memilih balutan




(Jacobs M. 2009)[ii]

Topikal terapi dan pembalut luka
No
Jenis Luka
Karakteristik luka
Pilihan topikal terapi dan balutan luka
1
Luka Abrasi
1.      Dasar luka merah
2.      Tepi luka sejajar dengan dasar luka
3.      Tipikal luka tidak bengkak
4.      Darah sedikit
1.     Metcovazine salep
2.     Ca. Alginate
3.     Kasa steril
4.     Tranparan film adhesif
2
Luka Robek
1.       Dasar luka merah
2.       Tepi luka idak sejajar dengan dasar luka
3.       Sekitar luka bengkak
4.       Cairan luka sedikit
1.     Metcovazine salep
2.     Ca. Alginate
3.     Kasa steril
4.     Hidrocolloids
5.     Transparan film
3
Luka Sayat
1.      Dasar luka  merah
2.      Tepi luka tidak sejajar dengan dasar  luka
3.      Sekitar luka bengkak/tidak bengkak
4.      Cairan luka sedikit/sedang
1.     Metcovazine salep
2.     Ca. Alginate
3.     Kasa steril
4.     Hidrocolloids
5.     Transparan film
6.     Hidrogel
7.     Parcel dressing
4
Luka Memar
1.      Epidermis tidak terkelupas
2.      Pendarahan di dalam kulit
3.      Sekitar memar tidak bengkak
1.     Metcovazine salep
2.     Kasa steril
3.     Tranparent film adhesif
5
Luka Bakar
1.      Sekitar luka merah  kering tidak bergelembung, bengkak/tidak
1.     Kasa steril
2.     Hidrocolloids
3.     Transparant film
(Carville K. 2007)[iii]


[i] Suryadi, manajemen Luka, STIKep Muhammadiyah, Romeo Grafika, Pontianak, 2007

[ii] Jacobs M. First Aid – Wound management, 2009. Didapat dari http//:www.soundingsonline.com/feature/lifestyle/229362-first-aid diakses pada tanggal 29 Mei 2014 Jam 22.50.

[iii] Carville, K. Wound Care Manual, 5th Edition, Silver chain Foundation, Australia, 2007