ORDER ONLINE DI TOKO VISIT CELLL

Dikirim oleh VISIT CELL pada 20 Maret 2016

Jumat, 06 Mei 2011

Wangi misik putih masih menusuk-nusuk hidung Zaky. Setiap wangi itu meyengat, bayangan Yanti dan senyum manisnya memenuhi rongga kepala Zaky. Kembali ia memutar ulang memory yang paling berkesan dalam hidupnya. Seminggu yang lalu adalah puncaknya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu kata pepatah. Zaky yang sudah lima tahun terakhir mengharapkan bisa bersanding manis dengan dara jelita bernama Yanti itu akhirnya tercapai. Ia sangat bahagia, air mata bahagia mengiringi hari teristimewa dalam hidupnya. Ia mengenakan pakaian pengantin warna kuning muda yang seragam dengan seratus temannya yang lain. Yanti mengenakan gaun putih bercorak India, disertai kain penutup muka yang membuat kejelitaannya bertambah, begitu juga seratus temannya yang lain. Guru Besar mereka menamakan ini adalah penikahan barakat.
Ia masih ingat jelas waktu dia menghabiskan waktunya dengan menulis sebuah puisi cinta untuk mengobati rasa rindunya terhadap Yanti tiga atau empat tahun yang lalu. Walau sebenarnya ia sadar bahwa hayalan, rindu, dan cintanya terhadap Yanti masih belum sah waktu itu. Ia sadar ini adalah zina otak, hati, dan perasaan. Namun ia hanya manusia biasa, ia tak sanggup membendung. Hari-hari yang pernah dilalui nya bersama Yanti kian menyiksa batinnya walau sepintas terdengar konyol karena kenangan manis itu hanya sebatas saling melempar senyum dipagi hari saat pergi sekolah dan berlomba menyampaikan salam, “Assalamu’alaikum.”
Waktu itu Zaky belum mengetahui nama Yanti. Yang ada hanya inisial ‘NS’ memenuhi diary nya. Dia baru mengetahuinya sewaktu Yanti pindah ke Jakarta. Dan itu adalah hari yang sangat berat baginya. Hari-hari berikutnya ia merasakan paginya kian kosong tanpa senyum dan salam dari Yanti. Diary kian mengambil alih untuk menjadi teman curhat yang setia bagi Zaky. Ia tak pernah berontak, ia menerima apapun yang dibahasakan Zaky.
Hari berlanjut. Rasa rindu tak dapat dibendung. Zaky mencoba mencari kabar tentang Yanti. Namun tak berhasil. Keluarga Yanti semuanya pindah ke kota Banda Aceh. Ia tidak mengetahui kapan mereka pindah dan dimana alamatnya. Sedang Yanti sendiri masih di Jakarta. Tak ada salju yang dapat memadamkan bara kerinduan Zaky saat itu.
“Kenapa aku kian bodoh, bukankah masih banyak...” Zaky tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia terdiam dan menangis, ia merasakan hal terindah dalam hidupnya kini telah pupus. Hilang dan tak berbekas. Ia juga tak yakin Yanti akan merasakan apa yang ia rasakan selama ini.
Hampir setahun penuh Zaky menyimpan rindu yang kian menyesakkan dadanya yang ia sendiri tak tahu harus kemana harus ia mencurahkannya.
Beberapa bulan kemudian, atas keputusan warasnya ia juga berangkat ke Bogor untuk kuliah dan mondok di pesantren setelah lulus dari sebuah sekolah swasta dipinggiran kota Banda Aceh. Dipesantren ia merasakan sedikit ketenangan. Namun beberapa bulan kemudian ia kembali dirasuki rasa rindu yang tak henti menyergap dan menyita hayalannya. Memory senyum terindah itu selalu hadir kala ia hendak memejamkan mata. Ia berusaha mengalihkan perasaan itu dengan menyibukkan diri dengan mengikuti apa saja yang ditawarkan pesantren. Namun hal itu pula yang membuat rindunya kian membara.
Selalu ia menyempatkan diri untuk membaca syair-syair yang mengisahkan tentang cinta, perjuangan, perpisahan, dan luka. Ia selalu masuk kedalam cerita apa yang dibacanya saat itu, hinga suatu hari ia terharu dan menangis setelah membaca kisah cinta Fadil dan Hamidah yang begitu indah yang pada akhirnya mereka harus bisa saling merelakan. Dadanya kian sesak.
“Akankah cintaku pada Yanti harus pupus seperti kisah ini?” komentar Zaky terhadap novel yang dikarang oleh Faidhurrahman el- misry, seorang penulis terkenal dari mesir itu.
Namun kehendak berkata lain. Jodoh ditangan Allah. Tak ada yang tahu sebelumnya. Zaky hampir saja berputus asa dalam harapan. Kupu-kupu cinta yang tadinya terbang menemui Yanti kini tak sanggup lagi mengepakkan sayapnya. Ia begitu lesu. Lemas tak berdaya.
Sedang Yanti sendiri masih melanjutkan Sekolahnya nya di sebuah SMA International di Jakarta Selatan. Namun setelah kejadian Tsunami yang memisahkannya dengan orang-orang terkasihnya ia terlihat jauh berbeda dari biasanya. Ia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tiada hari tanpa sebuah doa untuk mereka.
“Saya yakin Allah pasti akan mengganti mereka dengan yang lebih baik.” Ucapnya walau sebenarnya ia sangat merasa kehilangan, bahkan lebih dari sewaktu ia harus meninggalkan senyumnya Zaky demi memenuhi harapan orang tua dan masa depannya.
Beberapa bulan setelah Tsunami ia tergugah saat membaca kisah Siti Aminah, ibunda Rasulullah SAW. yang tidak pernah keluar walau sebatas pintu rumahnya. Oleh kisah itu juga ia berniat akan berusaha menjadi wanita yang selalu dirindui oleh orang-orang shaleh, wanita yang sebagus-bagusnya wanita menurut Siti Aisyah r.a. akhirnya Yanti memutuskan untuk mondok disebuah pesantren modern di Parung, Bogor. Disitu juga ia menamatkan SMA nya dan menjadi mahasiswi.
Yanti mengenal Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, nama pesantren itu, dari guru spiritualnya. Waktu itu Yanti meminta beliau untuk mencari tempat dimana ia bisa lebih bisa menjaga diri lebih bisa menjadi muslimah sejati. Cita-cita mulia.
Pahit manis ia rasakan dipesantren. Ia tak mau mengeluh walau kadang ia merasa sangat susah untuk bisa bertahan disini. Ia hanya yakin, “Tak ada pelaut ulung lahir dari laut yang tenang dan dangkal.”
Dua tahun mondok disini, Abah, sebutan untuk guru besarnya, menawarkannya untuk menikah
“Kamu menikah tahun ini. Ada seorang laki-laki yang sangat menjaga dirinya berasal dari daerah kamu juga, Aceh. Abah yakin ia cocok denganmu. Tapi semua keputusan ada ditanganmu. Istikharahlah.” Abah meyakinkannya waktu ia baru selesai mengepel dirumah beliau. Namun Abah tak memeberi tahu siapa nama laki-laki tersebut.
“Insya Allah, Abah.” Jawab Yanti menunduk malu.
Dua minggu kemudian pendaftaran pernikahan barakat dibuka. Yanti mendaftarkan diri. Beberapa hari kemudian penembakan terhadap calon pengantin wanita digelar. Zaky menembak seorang yang ia rasa yakin dengannya. Ia memilih yang sedaerah, walau sebenarnya ia belum mengenalnya sama sekali. Tapi ia yakin akan istikharahnya.
“Nomer 17, Yanti.”
Setelah semua cocok dengan tembakannya, giliran pihak putri menentukan pilihan. Terima atau tidak terserah mereka. Hampir semua calon pengantin pria menerima surat berwarna pink, yang berarti diterima. Begitu juga dengan Zaky. Hanya beberapa dari mereka yang menerima surat putih, yang berarti ditolak dengan hasil istikharah pihak putri.
Hari ta’arufan dimulai. Semua orang tua calon pengantin putri diundang menurut jadwal ta’arufan mereka. Begitu juga Yanti, pamannya datang hari itu. Dari pesantren putri, mereka, calon pengantin putri menuju ke gedung Tae Kwon Do, dimana ta’arufan di selenggarakan. Disana calon pengantin pria dan wali dari pengantin wanita berkumpul. Mereka terlihat rapi dengan busana muslimnya. Setiap calon pengantin putri membawa nomer yang sesuai dengan nomer waktu penembakan. Mereka menunduk malu.
Sesaat kemudian dipanggil calon pria dan keluarganya untuk persiapan menemui keluarga putri. Lain dengan Zaky, dia hanya datang dengan seorang ustadz seniornya yang juga berasal dari Aceh. Tak ada keluarganya yang datang, karena memang tak diundang mengingat biaya transportasi yang sangat melonjak selepas tsunami dua tahun lalu. Ia hanya memberitahukannya saja. Hatinya berdesir. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahnya menjalar seketika keseluruh tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi lehernya. Kaguknya kian terlihat. Ia jadi salah tingkah.
Yanti tak berani menatap wajah calonnya yang sudah duduk beberapa saat yang lalu. Ia hanya menundukkan wajahnya sejak pertama ia datang. Mukanya terlihat merah. Ia malu bukan buatan. Ia merasa seluruh orang didunia menatapnya. Namun begitu dalam hati ia tersenyum. Ia akan bersanding dengan orang yang benar-benar mengikuti ajaran Agama Allah. Beberapa saat kemudian Zaky memberanikan diri melihat calon istrinya. Begitu juga dengan Yanti. Sesaat pandangan mereka bertemu.
“Hah…?!” Yanti kaget. Ia merasa pernah melihat laki-laki yang sebentar lagi akan halal baginya. Tapi dimana? Ia tidak bisa mengingat karena rasa yang terus berkecamuk bergelora didadanya. Begitu juga Zaky. Ia malah manangis. Ia masih bisa menerka. Ia tahu siapa yang sedang tunduk malu di depannya.
“Biasa. Hari-hari begini memang sangat menegangkan.” Kata paman Yanti kepada Ustadz yang menemani Zaky. Beliau hanya mengangguknya.
Zaky kembali memerhatikan wajah Yanti yang semakin merah padam. Walau ia sepertinya mengenal Yanti, Namun ia tak berani mengungkapkannya. Yanti juga merasakan hal demikian.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar