ORDER ONLINE DI TOKO VISIT CELLL

Dikirim oleh VISIT CELL pada 20 Maret 2016

Jumat, 18 Maret 2011

Pompa Air tanpa Listrik
Artikel dikutip dari
http://majalah.tempointeraktif.com/
id/arsip/2008/12/08/ILT/
mbm.20081208.ILT128909.id.html
Warga Banyumas menemukan
pompa air bertenaga air. Ia
mendapat penghargaan dua pekan
lalu. Tanpa listrik, pompa bisa
menyemburkan air hingga
ketinggian 300 meter.
DARI koleksi perpustakaan desa,
Sudiyanto menemukan buku
teknologi terapan itu. Berjudul
Pompa Air Tenaga Air —kitab aslinya
berbahasa Belanda—isi buku itu tiba-
tiba saja mencerahkan benak Yanto.
Ia berpikir, apa salahnya mencoba
membuat pompa seperti dalam
buku itu untuk mengatasi krisis air di
desanya.
Desa Grumbul Glempang tempat ia
tinggal, juga Desa Kotayasa di
Kecamatan Sumbang, Banyumas,
Jawa Tengah, sedang paceklik air.
Warga desa harus berjalan kaki
ratusan meter menuruni lereng
untuk mendapatkan air dari Sungai
Lumarapi atau sumber mata air Tuk
Sladan, yang dulunya disebut Tuk
Begu. Desa Kotayasa malah terletak
jauh di ketinggian Gunung Slamet
(3.450 meter), sekitar 3.000 meter di
atas permukaan laut.
Warga bukannya tak pernah
mencoba membuat sumur. Meski
sudah digali hingga 25 meter, air
yang keluar amat sedikit. Bahkan
pada musim kemarau sumur tak
berair sama sekali. Untuk
berlangganan air dari perusahaan
daerah air minum, kebanyakan
warga merasa tak mampu. Jarak
Desa Kotayasa dengan kota terdekat,
Purwokerto, juga cukup jauh:
sekitar 17 kilometer.
Kondisi inilah yang membuat
pengurus Karang Taruna Desa
Grumbul itu tergerak membuat
pompa air bertenaga air. Dalam
buku tersebut dijelaskan secara
terperinci bagaimana mengalirkan
air dari lokasi rendah ke tempat
yang lebih tinggi. Cara
pembuatannya pun cukup
sederhana, yakni dengan
memanfaatkan teknologi hydraulic
ram (hydram). Sayang, dalam buku
itu tertulis pompa hanya mampu
mengalirkan air setinggi tujuh
meter. Sedangkan sungai atau
sumber air di Desa Kotayasa
jaraknya mencapai ratusan meter.
Tanpa dasar pengetahuan mekanika
fluida, Yanto tetap nekat mencoba.
Kendala pertama yang dihadapi: ia
tak punya modal. Beruntung,
saudara-saudaranya mau
meminjamkan uang Rp 5 juta untuk
membeli bahan yang diperlukan.
Pada awalnya Yanto mengaku telah
mengikuti semua prosedur yang
ditulis dalam buku. Setelah peralatan
terpasang, ia mengalirkan air ke
dalam pompa tapi air tak mau
menyembur. ”Sepuluh kali gagal.
Selama sekitar dua tahun saya terus
mengutak-atik pompa air tersebut, ”
ucap ayah lima anak lulusan aliyah
ini. ”Banyak tetangga menganggap
saya gila waktu itu.”
Tak patah arang, lelaki yang kini
berusia 41 tahun itu terus berupaya
memperbaikinya. Pada suatu saat
sebuah ketidaksengajaan terjadi.
Pompa hydram buatannya bocor.
Tapi kebocoran itu justru membuat
aliran air kian deras. Seperti
mendapat angin segar, Yanto
memodifikasi pompa air tersebut
dengan membuat beberapa lubang.
Hasilnya, air mampu menyembur
setinggi 18 meter, lebih tinggi dari
yang tertulis di buku. Air bahkan
bisa menjangkau ketinggian 300
meter. ”Saya langsung berteriak
seperti orang gila. Ternyata
percobaan saya tak sia-sia, ”
ucapnya.
Mulanya Yanto hanya membuat
saluran pipa air khusus ke
rumahnya. Jarak ketinggian antara
sumber air dan rumahnya 315
meter. Tetangganya yang dulu
mencemooh kini ikut menikmati air
hasil pompa hydram buatannya.
Agar warga mudah memperoleh air
bersih, dibuatlah sebuah bak
penampungan. Pada musim
kemarau, warga Desa Kotayasa tak
lagi kekurangan air bersih.
Pompa air tenaga air buatan Yanto
ini akhirnya terdengar hingga
melampaui batas Desa Kotayasa.
Panitia Indonesia Berprestasi Award
(IBA) 2008 menangkap informasi
tersebut. Indonesia Berprestasi
adalah suatu kompetisi prestasi
yang diselenggarakan PT
Excelcomindo Pratama Tbk., salah
satu perusahaan telekomunikasi di
Indonesia. Salah satu kategori yang
dilombakan adalah ilmu
pengetahuan dan teknologi. Di
kategori ini, temuan Yanto
didaftarkan.
”Kami memilih mereka yang
mampu membangkitkan semangat
anggota masyarakat lain, sekecil apa
pun prestasi yang dibuat oleh orang
tersebut, ” ucap Adrie Subono, salah
satu anggota dewan juri. ”Dengan
semangat yang tertular, akan
muncul multiplier effect yang
menciptakan orang-orang
berprestasi lain bagi lingkungannya,”
Adrie menambahkan.
Setelah melalui verifikasi ketat,
pompa air tenaga air buatan Yanto
dinyatakan sebagai pemenang di
Jakarta dua pekan lalu. Menurut
dewan juri, teknologi pompa air
tersebut amat aplikatif dan memiliki
manfaat yang besar bagi
masyarakat yang hidup di
pegunungan. Di putaran final ia
mengalahkan seorang profesor
yang membuat teknologi listrik
tenaga surya. ”Lumayan juga,
orang tak berpendidikan
mengalahkan profesor, ” kata Yanto
sembari tertawa lebar.
Mekanisme kerja pompa buatan
Sudiyanto cukup sederhana. Air dari
sumber air ditampung dalam
sebuah bak dengan ketinggian
sekitar lima meter. Air dialirkan ke
tempat yang lebih rendah
menggunakan pipa. Dengan
kemiringan tertentu air tersebut
dialirkan ke hydram. Setelah masuk
ke hydram, disemburkan ke atas
atau ke tempat penampungan air di
sekitar perkampungan penduduk.
Semua proses tak membutuhkan
bahan bakar minyak maupun listrik.
Prinsip kerja pompa air tersebut
adalah memanfaatkan daya dorong
air dari ketinggian tertentu untuk
menaikkan kembali air tersebut.
Kemiringan antara air turun, pompa,
dan air naik juga menjadi faktor
penting. ”Ini yang saya belum tahu
rumus fisikanya,” ujar Yanto terus
terang. Ia berharap ada ahli atau
konsultan yang bisa membantunya
menemukan rumus fisika tersebut.
Hydram dibuat dari pipa galvins.
Terdiri atas pipa input (tempat air
masuk), pompa, dan pipa output. Di
dalam pompa (berbentuk tabung
berdiameter 40 sentimeter), ada klep
yang terbuat dari potongan ban
bekas. Fungsinya mengatur
komposisi udara dan air yang akan
dimampatkan ke saluran output.
Komposisi yang pas antara udara
dan air inilah yang menjadikan air
bisa terdorong ke atas. Semakin
terjal atau semakin tinggi air
dialirkan, semakin kuat pula daya
dorongnya.
Setelah sukses membuat desanya
berkecukupan air, Yanto kini
terobsesi membantu desa lain yang
memiliki masalah serupa. Di depan
rumahnya, teras berukuran 2 x 3
meter persegi menjadi bengkel
pembuatan pompa hydram.
Namun hingga kini hasil karyanya
belum dipatenkan. Penyebabnya, ya
itu tadi, ia belum tahu rumus fisika
temuannya. Penjelasan mekanika
fluida yang logis memang
diperlukan lembaga paten untuk
temuan Yanto.
Sembari menanti uluran tangan
ilmuwan yang mau membantunya,
ia mulai menerima pesanan pompa
hydram dari daerah lain seperti dari
Tegal dan Purbalingga. Untuk
pompanya saja, ia menjual Rp 1,5
juta. Untuk pipa berukuran 1 dim ia
memasang harga Rp 2,5 juta dan
ukuran 2 dim dikenai tarif Rp 3,5
juta. Jasa borongan atau
pembangunan satu unit juga bisa
dia kerjakan, dengan ongkos Rp 25
juta. ”Saya tak mengambil untung
banyak, kok,” ujarnya. ”Ini lebih ke
proyek sosial. Yang penting banyak
warga menikmati temuan saya. ”
Firman Atmakusuma, Aris
Andrianto (Banyumas)
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar